Apa yang terjadi di otak
Antara 6 dan 12 bulan bayi belajar bahwa suara punya makna. Ia mulai mengoceh berulang (“ba-ba-ba”, “ma-ma-ma”), mengenali namanya, memahami “tidak”, dan menjelang 12 bulan mengucapkan satu atau dua kata bermakna. Yang membangun semua itu bukan video edukasi, tetapi jumlah kata yang didengar dari orang yang menatapnya dan giliran bergantian dalam “percakapan”.
Enam kebiasaan harian
- Narasikan kegiatan. “Ibu buka popoknya. Basah, ya. Sekarang pakai yang kering.” Bahasa apa pun yang paling nyaman bagi Anda; dua bahasa di rumah tidak membingungkan bayi.
- Balas ocehannya. Saat bayi berkata “ba”, jawab “ba! iya, bola.” Tunggu 3 sampai 5 detik untuk gilirannya. Bergantian ini adalah inti percakapan.
- Sebut nama benda yang ia lihat. Ikuti arah pandangnya, bukan sebaliknya. Kata yang diucapkan tepat saat bayi menatap bendanya paling mudah diingat.
- Bacakan buku setiap hari, meski hanya 5 menit dan meski ia lebih tertarik menggigitnya. Buku bergambar besar dengan satu benda per halaman paling cocok.
- Nyanyikan lagu dengan gerakan, “Cicak-cicak di dinding”, “Pok ame-ame”. Irama dan pengulangan memperkuat pola suara.
- Matikan layar. Di bawah 18 bulan layar tidak menambah kosakata dan mengurangi waktu percakapan nyata.
Yang bisa diharapkan
- 6 bulan: menoleh ke suara, mengoceh vokal, tertawa.
- 9 bulan: ocehan berulang dengan konsonan, memahami “tidak”, menunjuk atau meraih sambil bersuara.
- 12 bulan: melambaikan “dadah”, merespons namanya, 1 sampai 2 kata seperti “mama” atau “dada” dengan makna.
Kapan perlu evaluasi
Bila di 9 bulan bayi belum mengoceh dengan konsonan atau tidak menoleh ke suara, atau di 12 bulan tidak menunjuk dan tidak merespons namanya, minta dokter memeriksa pendengaran dan perkembangannya. Tandai tonggaknya di tab Tumbuh → Milestones agar pola ini terlihat sejak dini.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter. Bila ragu, konsultasikan dengan dokter anak.